Recent Books

Kiai Hamam Djafar dan P. Pabelan

Judul Buku
:
Kiai Hamam Djafar dan P. Pabelan
Penulis
:
Ajip Rosidi
Penerbit
:
Pustaka Jaya
Tahun Terbit
:
2009
Tempat
:
KSW
ISBN
:
9789794193471
Jenis Buku
:
Biografi
Sumber
:
Sinopsis
:




Pondok Pabelan bukan lembaga yang bernaung di bawah salah satu organisasi Islam, baik Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama (NU). Jati diri Pondok tampak dalam ajaran pluralisme sang Kiai tidak terhenti antar dan lintas iman, tetapi juga antar kelompok dalam tubuh Islam sendiri. Berulang kali Kiai meledek konflik NU dan Muhammadiyah dengan ungkapkan, "Santri Pabelan jangan sibuk dengan NU atau Muhammadiyah. Kita bisa menjadi Muhammad NU atau Nahdlatul Diyah". Jadi, identitas picik aliran ditumpulkan dan dikarikaturkan dengan jenaka oleh sang Kiai. Tetapi tradisi ritual Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah juga dihargai, seperti halnya para sesepuh Pabelan yang lekat dengan ke-NU-annya digelarkan sajadah untuk jadi imam solat dengan qunut atau tarawih 21 rakaat.

Pabelan menjadi ladang subur sikap multikultural. Pabelan menyediakan ruang dialog yang 'bebas risiko' bagi masalah perbedaan agama, perbedaan aliran agama, perbedaan etnis dan ekspresi budaya. Para romo dan suster dapat berinteraksi dan saling belajar tentang masalah-masalah sensitif keagamaan dengan Kiai dan para santri Pondok Pabelan. K. H. Hamam sendiri bersahabat dengan pemimpin dan penganut agama lain, antara lain sahabat dekat Romo Y. B. Mangunwijaya.

Buku ini menghimpun tulisan berbagai pihak yang mempunyai ikatan emosional yang kuat kepada sang Kiai dan Pondok: para mantan santri, keluarga, guru, dan para sahabat. Mereka menyoroti apa adanya tentang sosok dan jati diri sang Kiai dan sekaligus jati diri Pondok Pabelan secara utuh.

Kiai Haji Hamam Dja'far dilahirkan di Desa Pabelan, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah, tanggal 26 Februari 1938 dari pasangan Kiai Dja'far dan Nyai Haji Hadijah. Setelah nyantri dan mengabdi pada almamaternya, dalam usia 25 tahun ia menghidupkan kembali Pondok yang sudah lama mati suri

Logika Dasar

Judul Buku
:
Logika Dasar
Penulis
:
R. G. Soekadijo
Penerbit
:
Gramedia
Tahun Terbit
:
2011
Tempat
:
KSW
ISBN
:
9796861437
Jenis Buku
:
-
Sumber
:
Sinopsis
:




Buku tentang logika dalam kepustakaan berbahasa Indonesia amat langka. Keadaan ini sangat gawat, kalau kita insaf bahwa berfikir logis, kritis, dan praktis merupakan syarat mutlak dari tuntutan kehidupan modern.

Kemampuan intelektual semacam itu merupakan sesuatu yang inheren dengan modernitas. Buku pegangan ini memperkenalkan tiga bentuk logika dasar: logika tradisional dari Mahzab Aristoteles, logika simbolik dan logika induktif, dan bentuk logika modern, yang dipengaruhi oleh perkembangan matematika modern.

Tan Malaka: Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Jilid I

Judul: Tan Malaka: Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Jilid I
Penulis : Harry A. Poeze
ISBN : 978-979-461-697-0
Penerbit: Bentang
Dimensi : 16 x 24
Jenis Cover : soft cover

Sinopsis:
Tan Malaka sosok penuh misteri dalam kancah kemerdekaan RI baik di masa persiapan maupun perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari upaya kembalinya penjajah di Indonesia. Dengan menggunakan nama samaran, ia menulis berbagai artikel dalam surat kabar dan mempertahankan pandanganannya yang tidak kenal kompromi. Kedudukannya di Comintern dan keyakinanannya atas dialektika matrialisme telah menenggelamkan butir-butir local value Minangkabau dalam filsafatnya di mata musuhmusuhnya. Ia adalah pahlawan nasional yang potret dan biografinya tidak pernah tercantum dalam Album Pahlawan Bangsa.

Resensi:
Tidak Sekadar Biografi Tan Malaka
Penulis : Hendri F. Isnaeni*)
Sumber: http://kompas.com
Pada tahun 1976 terbit Tan Malaka; Strijder voor Indonesie’s vrijheid; Levensloop van 1897 tot 1945 (Tan Malaka; Pejuang Kemerdekaan Indonesia; Perjalanan Hidup dari 1897-1945), yang merupakan disertasi Harry A. Poeze untuk Universiteit Amsterdam. Hadir di Indonesia dalam bentuk buku dengan judul Tan Malaka; Pergulatan Menuju Republik, 1897-1925 (Jakarta, 1988, 2000) dan Tan Malaka: Pergulatan Republik Indonesia, 1925-1945 (Jakarta, 1999). Poeze menyadari, penelitian yang dilakukannya mengandung sejumlah kekurangan. Harapannya dapat ditutupi dalam versi ulang pembahasannya. Karena itu, ia mulai mengumpulkan bahan-bahan selama tiga bulan tinggal di Indonesia dalam tahun 1980.

Poeze mengakui, menulis riwayat hayat dan pemikiran-pergerakan Tan Malaka merupakan suatu dahaga. Ia heran, karena ternyata masih sangat banyak kejadian yang belum dituliskan. Ia pun berusaha keras melakukan penelitian dan penulisan dengan memakan waktu selama sepuluh tahun. Hasilnya sebuah buku magnum opus dalam bahasa Belanda, yang terdiri dari tiga jilid berisi 2.200 halaman, dan terbit pada bulan Juni 2007, berjudul Verguisd en vergeten; Tan Malaka, de linkse beweging en de Indonesische Revolutie, 1945-1949 (Dihujat dan dilupakan; Tan Malaka, gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia, 1945-1949).

Sejarah ini dituliskan dengan perkembangan politik dalam negeri Indonesia sebagai titik tolak. Sebagian besar buku yang mengupas sejarah Indonesia, memilih suatu sudut pandang, yang ditentukan oleh dimensi-dimensi internasional dari konflik dekolonisasi antara Indonesia dan Belanda, dengan peranan penting Inggris, Amerika Serikat, dan Perserikatan Bangsa Bangsa. Dengan demikian, Perjanjian Linggajati dan Perjanjian Renville, serta dua aksi militer Belanda berperan sebagai titik balik yang menentukann. 

Di dalam Republik Indonesia sendiri, kejadian-kejadian tersebut juga merupakan peristiwa penting. Tetapi yang lebih penting dan menentukan jalannya sejarah ialah perkembangan dan krisis internal. Hal itu yang menentukan hidup-matinya republik itu sendiri. Konflik di dalam republik antara “perjuangan” dan “diplomasi” itulah yang setiap kali berkobar. Tetapi kedua belah pihak tidak memiliki pengikut tetap. Sebagian besar, pada suatu ketika memilih satu pihak. Pada saat yang lain, pindah ke pihak lain. Di sini oportunitas politik memainkan peranan besar. Ini seperti permainan akrobat yang sulit. Tidak ada jaring pengaman, maka jumlah korban pun tidak sedikit.

Peristiwa-peristiwa sangat penting dalam kesimpangsiuran dalam negeri ialah persidangan parlemen sementara, Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dalam bulan Februari-Maret 1946, Persitiwa 3 Juli 1946, sidang KNIP tentang persetujuan Perjanjian Linggajati Februari-Maret 1947, pembentukan Kabinet Hatta Januari 1948, pemberontakan Madiun September-Oktober 1948, dan akhirnya reaksi-reaksi terhadap persetujuan Roem-Roijen Mei 1949, dan Konferensi Meja Bundar Desember 1949. Semua peristiwa itu dibicarakan panjang lebar dalam buku ini (hlm. vii-viii)

Dari gambaran itu, tentu kita tidak hanya menikmati perjalanan hidup Sang Kiri Nasionalis yang penuh misteri, tetapi juga bisa menyantap sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia. Tentu saja di setiap peristiwa itu, Tan Malaka memainkan peranan penting, baik mendominasi jalannya peristiwa maupun hanya menjadi bagian kecil saja. Menurut Poeze, buku ini berbeda dengan buku-buku sejarah yang pernah ada, karena Indonesia menjadi aktor utama yang menentukan hidup dan matinya. Sementara buku-buku sejarah yang pernah ada, menempatkan Indonesia sebagai buih dari konflik dekolonisasi. Perubahan ini diharapkan membawa sudut pandang baru dalam memahami sejarah Indonesia.

Buku Verguisd en vergeten yang dalam versi Belanda terdiri dari tiga jilid, untuk versi Indonesia rencananya akan berjumlah enam jilid, yang akan terbit berturut-turut dalam waktu tiga tahun. Judulnya berubah menjadi: Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Saat ini, kita baru bisa menikmati jilid pertama, periode Agustus 1945- Maret 1946. Setiap jilid akan diberi anak judul yang berupa keterangan kronologis peristiwa. Pembagiannya: Jilid II: Maret 1946-maret 1947; Jilid III: Maret 1947-Agustus 1948; Jilid IV: September 1948-Februari 1949; Jilid V: Maret 1949-2010; Jilid VI: memberikan uraian tentang jalannya pemberontakan Madiun. Karena itu, judul untuk lima jilid pertama tidak berlaku lagi, mengingat di dalam peristiwa Madiun Tan Malaka tidak memiliki peran. Dengan demikian jilid ini akan diterbitkan sendiri dengan judul tersendiri.

Buku ini tidak sekadar biografi Tan Malaka, tetapi juga merupakan sejarah Revolusi Indonesia. Rasa haus terhadap Tan Malaka, membuat Poeze melangkah jauh menyelami palung-palung sejarah Indonesia, hingga tahun 2010. Apa yang akan digambarkan Poeze selanjutnya? Kita tunggu saja lima jilid berikutnya.

*)Hendri F. Isnaeni
Peneliti Sejarah Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.
Penulis Buku Penyamaran Terakhir Tan Malaka di Banten (1943-1945) yang akan terbit Agustus 2009 oleh Penerbit Tinta MAS Jakarta.

sumber : http://panjerina.wordpress.com/2012/07/12/tan-malaka-gerakan-kiri-dan-revolusi-indonesia-jilid-i/

Young Samurai 2

Judul: Young Samurai 2
No. ISBN: 9789793714592
Penulis: Chris Bedford
Penerbit: Hikmah
Tanggal terbit: Februari – 2010
Jumlah Halaman: 528
Jenis Cover: Soft Cover
Text: Bahasa Indonesia

Sinopsis :
– Young Samurai 2
Tapi itu baru masalah kecil bagi Jack. Dia tahu bahwa rival mautnya—sang ninja Mata Naga—dapat menyerangnya kapan saja. Jack masih menyimpan satu barang yang diincarnya, dan ninja pembunuh ayahnya itu tak akan ragu menghabisinya untuk mendapatkan benda itu.

Dapatkah Jack menguasai Jalan Pedang pada waktunya untuk bertahan menghadapi pertarungan hingga titik darah penghabisan?

Sang Pemimpi

Judul: Sang Pemimpi
Penulis Andrea Hirata
Penerbit Bentang Pustaka
Tanggal terbit Mei – 2011
Jenis Cover Soft Cover
Kategori Petualangan
Text Bahasa Indonesia ·

Sinopsis :

Sang Pemimpi adalah sebuah lantunan kisah kehidupan yang memesona dan akan membuat Anda percaya akan tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan pengorbanan, lebih dari itu, akan membuat Anda percaya kepada Tuhan. Andrea akan membawa Anda berkelana menerobos sudut-sudut pemikiran di mana Anda akan menemukan pandangan yang berbeda tentang nasib, tantangan intelektualitas, dan kegembiraan yang meluap-luap, sekaligus kesedihan yang mengharu biru.

Tampak komikal pada awalnya, selayaknya kenakalan remaja biasa, tapi kemudian tanpa Anda sadari, kisah dan karakter-karakter dalam buku ini lambat laun menguasai Anda. Karena potret-potret kecil yang menawan akan menghentakkan Anda pada rasa humor yang halus namun memiliki efek filosofis yang meresonansi. Karena arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah dua orang tokoh utama buku ini: Arai dan Ikal akan menuntun Anda dengan semacam keanggunan dan daya tarik agar Anda dapat melihat ke dalam diri sendiri dengan penuh pengharapan, agar Anda menolak semua keputusasaan dan ketakberdayaan Anda sendiri.

“Kita tak kan pernah mendahului nasib!” teriak Arai.
“Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apa pun yang terjadi!”

Sang Pemula

Judul: Sang Pemula
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Tanggal Terbit: 1985
Halaman: 418
Cover: softcover

Sinopsis:
Dalam lipatan lusuh sejarah Republik, nama Tirto Adhi Surjo memang sempat hilang dan terkubur dalam ingatan kolektif masyarakat. Padahal di pergantian abad, nama ini tampil sebagai pribumi pertama yang membebaskan diri dari manusia yang hanya menjadi budak administrasi kekuasaan kolonial. Lewat tulisannya dan perjuangan yang dilakukannya lewat lembaran koran yang diciptakannya, Medan Prijaji, disuluhnya bangsanya. Dititipkannya rasa mardika dalam hati pribumi serta digerakannya hati itu dalam mesin organisasi modern. Pram dengan kegigihannya menampilkan tokoh “anonim” ini ke pentas sejarah nasional.

Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia

Judul:  Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia
ISBN/ISSN:  979-498-100-1
Pengarang:  George Mc Turnan Kahin
Penerbit UNS Press
Tahun Terbit:  1995
Tempat Terbit:  Jakarta
Tebal: xxiii,608hlm.:bibi.,23cm.

sumber :  http://panjerina.wordpress.com/2012/11/02/nasionalisme-dan-revolusi-di-indonesia/

Ikan-ikan Hiu Ido Homa

Judul: Ikan-ikan Hiu Ido Homa
Penulis : Y.B.Mangunwijaya
Penerbit : Djambatan
Tgl Terbit : 1987
No. ISBN : -
Halaman : 318 hal
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi (LxP) : 14.5 x 21 cm

Sinopsis:
Novel yang dilengkapi dengan peta, catatan sejarah kebudayaan masyarakat di Maluku Utara, dan ilustrasi yang memukau. Bercerita tentang Gabi yang pada tahun 1980 menelusuri sejarah Kiema-Dudu, kepala kampung Dowingo-Jo di tepi timur Teluk Kao di pulau Halmahera sana ratusan tahun sebelumnya (1594) dan menemukan kepahlawanan dan keberanian masyarakat Halmahera saat menghadapi bangsa kolonial

sumber : http://panjerina.wordpress.com/2012/07/28/ikan-ikan-hiu-ido-homa/

Mangan Ora Mangan Kumpul

Judul Buku : Mangan Ora Mangan Kumpul
Penulis : Umar Kayam
Pengantar : Goenawan Mohamad
Penerbit : Grafiti, Jakarta, cet.V, 
Tahun terbit :1995
Tebal : 458 hlm

Sinopsis:
Di kemas dalam gaya seloroh, nakal dan santai kumpulan kolom Umar Kayam ini, mencuatkan sesuatu yang transendental. Teknik penulisannya pun, uniknya, mengingath kita pada Obrolan Pak Besut di RRI Yogyakarta dahulu menghadirkan sejumlah tokoh tetap, dan_ mengikat ”alur cerita” dengan warna lokal yang kental. Jika kemudian warna lokal Jawa yang agaknya harus dilihat lebih sebagai alat menyampai, kearifan dalam memandang kehidupan. Baginya, hidup adalah harmoni, dan tidak selalu hitam-putih.

Komentar Goenawan Mohamad, “Hidup, seperti yang tersirat dari tulisan Umar Kayam ini, tidak bisa dilihat secara ekstrem , banyak problem, tapi kita masih bisa selalu betah karena hidup tak pernah jadi proses yang soliter

Resensi:
Sayur asem, wong cilik, dan …
Susanto Pudjomartono
Umar Kayam dikenal punya pergaulan luas. Kenalannya dari kalangan atas sampai mbok-mbok penjual gudeg lesehan di Yogya. Gaya hidup guru besar UGM ini sungguh nyeniman. Pengalamannya juga sangat luas. Ia pernah menjabat Dirjen Radio, Televisi, dan Film Ketua Dewan Kesenian Jakarta dan Ketua Dewan Film Nasional. Ia pernah berperan dalam beberapa film, antara lain Karmila, Yang Muda yang Bercinta, dan sebagai Bung Karno dalam Pengkhianatan G30S-PKI. Mungkin karena itu tulisan-tulisannya terasa “kaya” dan enak dibaca. Penuh humor, tapi berbobot.

Cerpennya, Seribu Kunang-Kunang di Manhattan memenangkan cerpen terbaik majalah Horison (1968). Kolom-kolomnya tersebar di berbagai media, dan bisa membahas banyak hal, dari profil almarhum Rusman, “Gatotkaca Sriwedari”, sampai kebiasaan mudik di waktu Lebaran. Namun, yang luput dari perhatian banyak orang — kecuali orang Yogya yang membaca koran Kedaulatan Rakyat — adalah kolom-kolom mingguannya yang dimuat di koran terbitan Yogyakarta itu.

Selama sekitar dua setengah tahun, sejak Mei 1987 hingga Januari 1990, ia telah menulis 127 sketsa. Sketsa-sketsa itu kini go public, setelah diterbitkan dalam buku ini, hingga bisa dinikmati publik yang lebih luas. Karena tugasnya, selama bertahun-tahun, Kayam tinggal di Yogya, sedang keluarganya ada di Jakarta. Sekali seminggu, Kayam “mudik” ke Jakarta. Seting Kayam yang tinggal dalam dua rumah, dalam dua “dunia” yang berbeda, Yogya dan Jakarta, inilah yang melatarbelakangi hampir semua sketsa yang ditulisnya. Mungkin karena menulis sketsa kehidupan, Kayam menulis tanpa beban dan pretensi apa-apa. Ia bagaikan tak peduli dengan tema, gaya bahasa, atau message tulisan.

Dalam sejumlah sketsa, ia bahkan mirip ngudarasa, alias thinking aloud. Akibatnya, tulisannya enak, mengalir. Istilah dan ungkapan Jawa, Inggris, Belanda, atau asing lainnya, dipakainya sak enak udele dewe, seenaknya. Sepertinya ia tak takut kuwalat karena, misalnya, sengaja memakai “semangkin”, bukan “semakin”. Atau mengindonesiakan sejumlah istilah asing, seperti hensem ( handsome), plin (lane), atau pangrok (punkrock). Dan rasanya, di tulisan Kayam, semua itu tak terkesan “merusak”, malah pas. Ia membahas apa saja yang dilihat, didengar, diingat, atau dirasakannya. Dari soal sayur asem, kena flu, patriotisme, warung kopi di Singapura, sampai kampanye pemilu.

Tokoh-tokoh sentral dalam tulisannya adalah personifikasi tokoh-tokoh yang dikenalnya dengan dekat. Ada Mr. Rigen (mirip nama Presiden AS Ronald Reagan, kan?), pembantunya yang berasal dari Desa Pracimantara, Wonogiri. Lalu istri Rigen. Ms. Nansiyem (Nancy Reagan?), dan anak mereka, Benny Prakosa. Kemudian ada Pak Joyoboyo, penjaja ayam panggang keliling. Kayam sendiri “berperan” sebagai Pak Ageng, sang bos. Terutama lewat Rigen dan Joyoboyo ini muncul sisi-sisi pemikiran wong cilik yang mungkin sering kita lupakan atau kita remehkan. Misalnya, bagaimana Rigen yang cuma lulusan SD tak bisa mengerti mengapa untuk mengarak api PON saja dihabiskan dana Rp 1 milyar. Seandainya saja uang sebanyak itu untuk membangun sumur di Pracimantara yang tandus….

Lewat ucapan “filsuf-filsuf Jawa” Mr. Rigen dan Joyoboyo inilah Kayam membuat kita merenung, terkadang menertawakan diri sendiri, betapa (mungkin) zaman telah mengubah kita, dan betapa tidak berubahnya sebagian di antara kita. Di tengah menderunya mesin pembangunan dan gemerlapnya modernisasi, mungkin kita akan tertegun mendengar kata-kata Pak Joyoboyo: “Saya tak ingin kaya, hanya ingin sekedar hidup.” Atau ucapan Rigen yang terheran-heran ketika ditanya apakah ia bahagia. “Menderita itu sudah nasib orang kecil, ya diterima saja,” katanya.

Lewat sketsa-sketsa ini Kayam telah menggugah nurani kita. Itu dilakukannya dengan halus, penuh humor, tanpa membuat orang marah. Ia menyenggol banyak hal, termasuk ekses-ekses pembangunan, tanpa membuat kening mengernyit. Yang juga penting, lewat tulisan-tulisan ini Kayam telah mencatat dan merekam perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat. Seperti kata Goenawan Mohamad dalam Kata Pengantar buku ini, Mangan Ora Mangan Kumpul akhirnya adalah “rekaman, juga komentar, tentang masyarakat Jawa yang sedang dalam peralihan”. Dan Kayam tutur Goenawan lagi, “memberikan kearifan dalam memandang hidup.”

Sayangnya, karena memang ditulis untuk publik Yogya, sketsa-sketsa ini paling bisa dinikmati oleh orang Yogya, atau yang pernah mengenal Yogya. Banyak sekali nama, istilah, ungkapan, atau kutipan dalam bahasa Jawa (Yogya). Toh itu tak mengurangi nilainya. Buku ini tak kalah berharganya dibanding Social Changes in Yogyakarta karya Prof. Selo Soemardjan yang terkenal itu.

sumber : http://panjerina.wordpress.com/2012/07/02/mangan-ora-mangan-kumpul/

Gadis Pantai

Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Edisi : Soft Cover
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
ISBN : 9799731208
Ukuran : 13×20
Tanggal Terbit : 2000

Sinopsis Buku:
Gadis pantai lahir & tumbuh di sebuah kampung nelayan di jawa tengah kabupaten rembang. Seorang gadis yg manis. Cukup manis utk memikat hati seorang pembesar santri setempat; seorang jawa yg bekerja pada belanda. Dia diambil menjadi gundik pembesar tersebut & menjadi mas nganten: perempuan yg melayani “kebutuhan” seks pembesar sampai kemudian pembesar memutuskan utk menikah dgn perempuan yg sekelas atau sederajat dengannya.

Mula perkawinan itu memberi prestise bagi di kampung halaman krn dia dipandang telah dinaikkan derajat menjadi bendoro putri. Tapi itu tak berlangsung lama. Ia terperosok kembali ke tanah. Orang jawa yg telah memiliki tega membuang setelah dia melahirkan seorang bayi perempuan. Roman ini menusuk feodalisme jawa yg tak memiliki adab & jiwa kemanusiaan tepat langsung si jantung yg paling dalam

Jejak Langkah

Judul: Jejak Langkah
oleh: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Edisi : Soft Cover
ISBN :
ISBN-13 :
Tgl Penerbitan :
Bahasa : Indonesia

Sinopsis Buku:
Kehadiran roman sejarah ini, bukan saja dimaksudkan untuk mengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namn juga mengisi isu kesusastraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini. karena itu hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda. Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. pembagian ini bisa juga kita artikan sebagai pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa periode. Dan roman ketiga ini, Jejak Langkah, adalah fase pengorganisasian perlawanan. 

Minke memobilisasi segala daya untuk melawan bercokolnya kekuasaan Hindia yang sudah berabad-abad umurnya. namun Minke tak pilih perlawanan bersenjata. Ia memilih jalan jurnalistik dengan membuat sebanyak-banyaknya bacaan Pribumi. Yang paling terkenal tentu saja Medan Prajaji. Dengan koran ini, Minke bereru-berseru kepada rakyat Pribumi tiga hal: meningkatkan boikot, berorganisasi, dan menghapuskan kebudayaan feodalistik. Sekaligus lewat langkah jurnalistik, Minke berseru-seru: `Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.`

Anak Semua Bangsa

Judul : Anak Semua Bangsa
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Editor : Joesoef Isak
Penerbit :Hasta Mitra
Tanggal – tahun terbit : 2001

Sinopsis Buku:
Kehadiran roman sejarah ini, bukan saja dimaksudkan untuk mengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namun juga mengisi isu kesusasteraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini. Karena itu hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda.

Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. Pembagian ini bisa juga kita artikan sebagai pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa periode.

Roman kedua Tetralogi, Anak Semua Bangsa, adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Di titik ini Minke diperhadapkan antara kekaguman yang melimpah-limpah pada peradaban Eropa dan kenyataan di selingkungan bangsanya yang kerdil. Sepotong perjalanannya ke Tulangan Sidoarjo dan pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis pergerakan Tionghoa, korespondensinya dengan keluarga De la Croix (Sarah, Miriam, Herbert), teman Eropanya yang liberal, dan petuah-petuah Nyai Ontosoroh, mertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.

Bumi Manusia

Judul :Bumi Manusia
ISBN : 979-97312-3-2
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Tahun Terbit : 2000
Sampul : Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Jumlah Halaman : 535 Halaman

Sinopsis:
Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.
Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu …. Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Perpustakaan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template