|
Judul Buku
|
:
|
Kiai Hamam Djafar dan P. Pabelan
|
|
Penulis
|
:
|
Ajip Rosidi
|
|
Penerbit
|
:
|
Pustaka Jaya
|
|
Tahun
Terbit
|
:
|
2009
|
|
Tempat
|
:
|
KSW
|
|
ISBN
|
:
|
9789794193471
|
|
Jenis Buku
|
:
|
Biografi
|
|
Sumber
|
:
|
|
|
Sinopsis
|
:
|
|
|
|
|
|
|
Pondok Pabelan bukan lembaga yang
bernaung di bawah salah satu organisasi Islam, baik Muhammadiyah maupun
Nahdlatul Ulama (NU). Jati diri Pondok tampak dalam ajaran pluralisme sang Kiai
tidak terhenti antar dan lintas iman, tetapi juga antar kelompok dalam tubuh
Islam sendiri. Berulang kali Kiai meledek konflik NU dan Muhammadiyah dengan
ungkapkan, "Santri Pabelan jangan sibuk dengan NU atau Muhammadiyah. Kita
bisa menjadi Muhammad NU atau Nahdlatul Diyah". Jadi, identitas picik
aliran ditumpulkan dan dikarikaturkan dengan jenaka oleh sang Kiai. Tetapi
tradisi ritual Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah juga dihargai, seperti halnya
para sesepuh Pabelan yang lekat dengan ke-NU-annya digelarkan sajadah untuk
jadi imam solat dengan qunut atau tarawih 21 rakaat.
Pabelan menjadi ladang subur sikap
multikultural. Pabelan menyediakan ruang dialog yang 'bebas risiko' bagi
masalah perbedaan agama, perbedaan aliran agama, perbedaan etnis dan ekspresi
budaya. Para romo dan suster dapat berinteraksi dan saling belajar tentang
masalah-masalah sensitif keagamaan dengan Kiai dan para santri Pondok Pabelan.
K. H. Hamam sendiri bersahabat dengan pemimpin dan penganut agama lain, antara
lain sahabat dekat Romo Y. B. Mangunwijaya.
Buku ini menghimpun tulisan
berbagai pihak yang mempunyai ikatan emosional yang kuat kepada sang Kiai dan
Pondok: para mantan santri, keluarga, guru, dan para sahabat. Mereka menyoroti
apa adanya tentang sosok dan jati diri sang Kiai dan sekaligus jati diri Pondok
Pabelan secara utuh.
| ||
Kiai Hamam Djafar dan P. Pabelan
Posted by Unknown
Posted on 7:46 PM
with No comments
Labels:
2009,
Ajip Rosidi,
Biografi
Logika Dasar
Posted by Unknown
Posted on 6:56 PM
with No comments
Judul Buku
|
:
|
Logika Dasar
|
|
Penulis
|
:
|
R. G. Soekadijo
|
|
Penerbit
|
:
|
Gramedia
|
|
Tahun
Terbit
|
:
|
2011
|
|
Tempat
|
:
|
KSW
|
|
ISBN
|
:
|
|
|
Jenis Buku
|
:
|
-
|
|
Sumber
|
:
|
||
Sinopsis
|
:
|
||
Buku
tentang logika dalam kepustakaan berbahasa Indonesia amat langka. Keadaan ini
sangat gawat, kalau kita insaf bahwa berfikir logis, kritis, dan praktis
merupakan syarat mutlak dari tuntutan kehidupan modern.
Kemampuan
intelektual semacam itu merupakan sesuatu yang inheren dengan modernitas.
Buku pegangan ini memperkenalkan tiga bentuk logika dasar: logika tradisional
dari Mahzab Aristoteles, logika simbolik dan logika induktif, dan bentuk
logika modern, yang dipengaruhi oleh perkembangan matematika modern.
|
|||
Labels:
2011,
KSW,
R. G. Soekadijo
Tan Malaka: Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Jilid I
Posted by Unknown
Posted on 11:39 PM
with 1 comment
Penulis : Harry A. Poeze
ISBN : 978-979-461-697-0
Penerbit: Bentang
Dimensi : 16 x 24
Jenis Cover : soft cover
Sinopsis:
Tan Malaka sosok penuh misteri dalam kancah kemerdekaan RI baik di masa persiapan maupun perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari upaya kembalinya penjajah di Indonesia. Dengan menggunakan nama samaran, ia menulis berbagai artikel dalam surat kabar dan mempertahankan pandanganannya yang tidak kenal kompromi. Kedudukannya di Comintern dan keyakinanannya atas dialektika matrialisme telah menenggelamkan butir-butir local value Minangkabau dalam filsafatnya di mata musuhmusuhnya. Ia adalah pahlawan nasional yang potret dan biografinya tidak pernah tercantum dalam Album Pahlawan Bangsa.
Tan Malaka sosok penuh misteri dalam kancah kemerdekaan RI baik di masa persiapan maupun perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari upaya kembalinya penjajah di Indonesia. Dengan menggunakan nama samaran, ia menulis berbagai artikel dalam surat kabar dan mempertahankan pandanganannya yang tidak kenal kompromi. Kedudukannya di Comintern dan keyakinanannya atas dialektika matrialisme telah menenggelamkan butir-butir local value Minangkabau dalam filsafatnya di mata musuhmusuhnya. Ia adalah pahlawan nasional yang potret dan biografinya tidak pernah tercantum dalam Album Pahlawan Bangsa.
Pada tahun 1976 terbit Tan Malaka; Strijder voor Indonesie’s
vrijheid; Levensloop van 1897 tot 1945 (Tan Malaka; Pejuang Kemerdekaan
Indonesia; Perjalanan Hidup dari 1897-1945), yang merupakan disertasi
Harry A. Poeze untuk Universiteit Amsterdam. Hadir di Indonesia dalam
bentuk buku dengan judul Tan Malaka; Pergulatan Menuju Republik,
1897-1925 (Jakarta, 1988, 2000) dan Tan Malaka: Pergulatan Republik
Indonesia, 1925-1945 (Jakarta, 1999). Poeze menyadari, penelitian yang
dilakukannya mengandung sejumlah kekurangan. Harapannya dapat ditutupi
dalam versi ulang pembahasannya. Karena itu, ia mulai mengumpulkan
bahan-bahan selama tiga bulan tinggal di Indonesia dalam tahun 1980.
Poeze mengakui, menulis riwayat hayat dan pemikiran-pergerakan Tan
Malaka merupakan suatu dahaga. Ia heran, karena ternyata masih sangat
banyak kejadian yang belum dituliskan. Ia pun berusaha keras melakukan
penelitian dan penulisan dengan memakan waktu selama sepuluh tahun.
Hasilnya sebuah buku magnum opus dalam bahasa Belanda, yang terdiri dari
tiga jilid berisi 2.200 halaman, dan terbit pada bulan Juni 2007,
berjudul Verguisd en vergeten; Tan Malaka, de linkse beweging en de
Indonesische Revolutie, 1945-1949 (Dihujat dan dilupakan; Tan Malaka,
gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia, 1945-1949).
Sejarah ini dituliskan dengan perkembangan politik dalam negeri
Indonesia sebagai titik tolak. Sebagian besar buku yang mengupas sejarah
Indonesia, memilih suatu sudut pandang, yang ditentukan oleh
dimensi-dimensi internasional dari konflik dekolonisasi antara Indonesia
dan Belanda, dengan peranan penting Inggris, Amerika Serikat, dan
Perserikatan Bangsa Bangsa. Dengan demikian, Perjanjian Linggajati dan
Perjanjian Renville, serta dua aksi militer Belanda berperan sebagai
titik balik yang menentukann.
Di dalam Republik Indonesia sendiri,
kejadian-kejadian tersebut juga merupakan peristiwa penting. Tetapi yang
lebih penting dan menentukan jalannya sejarah ialah perkembangan dan
krisis internal. Hal itu yang menentukan hidup-matinya republik itu
sendiri. Konflik di dalam republik antara “perjuangan” dan “diplomasi”
itulah yang setiap kali berkobar. Tetapi kedua belah pihak tidak
memiliki pengikut tetap. Sebagian besar, pada suatu ketika memilih satu
pihak. Pada saat yang lain, pindah ke pihak lain. Di sini oportunitas
politik memainkan peranan besar. Ini seperti permainan akrobat yang
sulit. Tidak ada jaring pengaman, maka jumlah korban pun tidak sedikit.
Peristiwa-peristiwa sangat penting dalam kesimpangsiuran dalam negeri
ialah persidangan parlemen sementara, Komite Nasional Indonesia Pusat
(KNIP) dalam bulan Februari-Maret 1946, Persitiwa 3 Juli 1946, sidang
KNIP tentang persetujuan Perjanjian Linggajati Februari-Maret 1947,
pembentukan Kabinet Hatta Januari 1948, pemberontakan Madiun
September-Oktober 1948, dan akhirnya reaksi-reaksi terhadap persetujuan
Roem-Roijen Mei 1949, dan Konferensi Meja Bundar Desember 1949. Semua
peristiwa itu dibicarakan panjang lebar dalam buku ini (hlm. vii-viii)
Dari gambaran itu, tentu kita tidak hanya menikmati perjalanan hidup
Sang Kiri Nasionalis yang penuh misteri, tetapi juga bisa menyantap
sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia. Tentu saja di setiap peristiwa
itu, Tan Malaka memainkan peranan penting, baik mendominasi jalannya
peristiwa maupun hanya menjadi bagian kecil saja. Menurut Poeze, buku
ini berbeda dengan buku-buku sejarah yang pernah ada, karena Indonesia
menjadi aktor utama yang menentukan hidup dan matinya. Sementara
buku-buku sejarah yang pernah ada, menempatkan Indonesia sebagai buih
dari konflik dekolonisasi. Perubahan ini diharapkan membawa sudut
pandang baru dalam memahami sejarah Indonesia.
Buku Verguisd en vergeten yang dalam versi Belanda terdiri dari tiga
jilid, untuk versi Indonesia rencananya akan berjumlah enam jilid, yang
akan terbit berturut-turut dalam waktu tiga tahun. Judulnya berubah
menjadi: Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Saat ini,
kita baru bisa menikmati jilid pertama, periode Agustus 1945- Maret
1946. Setiap jilid akan diberi anak judul yang berupa keterangan
kronologis peristiwa. Pembagiannya: Jilid II: Maret 1946-maret 1947;
Jilid III: Maret 1947-Agustus 1948; Jilid IV: September 1948-Februari
1949; Jilid V: Maret 1949-2010; Jilid VI: memberikan uraian tentang
jalannya pemberontakan Madiun. Karena itu, judul untuk lima jilid
pertama tidak berlaku lagi, mengingat di dalam peristiwa Madiun Tan
Malaka tidak memiliki peran. Dengan demikian jilid ini akan diterbitkan
sendiri dengan judul tersendiri.
Buku ini tidak sekadar biografi Tan Malaka, tetapi juga merupakan
sejarah Revolusi Indonesia. Rasa haus terhadap Tan Malaka, membuat Poeze
melangkah jauh menyelami palung-palung sejarah Indonesia, hingga tahun
2010. Apa yang akan digambarkan Poeze selanjutnya? Kita tunggu saja lima
jilid berikutnya.
*)Hendri F. Isnaeni
Peneliti Sejarah Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.
Penulis Buku Penyamaran Terakhir Tan Malaka di Banten (1943-1945) yang akan terbit Agustus 2009 oleh Penerbit Tinta MAS Jakarta.
Peneliti Sejarah Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.
Penulis Buku Penyamaran Terakhir Tan Malaka di Banten (1943-1945) yang akan terbit Agustus 2009 oleh Penerbit Tinta MAS Jakarta.
sumber : http://panjerina.wordpress.com/2012/07/12/tan-malaka-gerakan-kiri-dan-revolusi-indonesia-jilid-i/
Labels:
1995,
Bentang Pustaka,
Harry A. Poeze
Young Samurai 2
Posted by Unknown
Posted on 11:35 PM
with No comments
Judul: Young Samurai 2
No. ISBN: 9789793714592
Penulis: Chris Bedford
Penerbit: Hikmah
Tanggal terbit: Februari – 2010
Jumlah Halaman: 528
Jenis Cover: Soft Cover
Text: Bahasa Indonesia
No. ISBN: 9789793714592
Penulis: Chris Bedford
Penerbit: Hikmah
Tanggal terbit: Februari – 2010
Jumlah Halaman: 528
Jenis Cover: Soft Cover
Text: Bahasa Indonesia
Sinopsis : – Young Samurai 2
Tapi itu baru masalah kecil bagi Jack. Dia tahu bahwa rival
mautnya—sang ninja Mata Naga—dapat menyerangnya kapan saja. Jack masih
menyimpan satu barang yang diincarnya, dan ninja pembunuh ayahnya itu
tak akan ragu menghabisinya untuk mendapatkan benda itu.
Dapatkah Jack menguasai Jalan Pedang pada waktunya untuk bertahan menghadapi pertarungan hingga titik darah penghabisan?
Labels:
2010,
Chris Bedford
Sang Pemimpi
Posted by Unknown
Posted on 11:32 PM
with No comments
Judul: Sang Pemimpi
Penulis Andrea Hirata
Penerbit Bentang Pustaka
Tanggal terbit Mei – 2011
Jenis Cover Soft Cover
Kategori Petualangan
Text Bahasa Indonesia ·
Penulis Andrea Hirata
Penerbit Bentang Pustaka
Tanggal terbit Mei – 2011
Jenis Cover Soft Cover
Kategori Petualangan
Text Bahasa Indonesia ·
Sinopsis :
Sang Pemimpi adalah sebuah lantunan kisah kehidupan yang memesona dan
akan membuat Anda percaya akan tenaga cinta, percaya pada kekuatan
mimpi dan pengorbanan, lebih dari itu, akan membuat Anda percaya kepada
Tuhan. Andrea akan membawa Anda berkelana menerobos sudut-sudut
pemikiran di mana Anda akan menemukan pandangan yang berbeda tentang
nasib, tantangan intelektualitas, dan kegembiraan yang meluap-luap,
sekaligus kesedihan yang mengharu biru.
Tampak komikal pada awalnya, selayaknya
kenakalan remaja biasa, tapi kemudian tanpa Anda sadari, kisah dan
karakter-karakter dalam buku ini lambat laun menguasai Anda. Karena
potret-potret kecil yang menawan akan menghentakkan Anda pada rasa humor
yang halus namun memiliki efek filosofis yang meresonansi. Karena arti
perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah
berani dalam kisah dua orang tokoh utama buku ini: Arai dan Ikal akan
menuntun Anda dengan semacam keanggunan dan daya tarik agar Anda dapat
melihat ke dalam diri sendiri dengan penuh pengharapan, agar Anda
menolak semua keputusasaan dan ketakberdayaan Anda sendiri.
“Kita tak kan pernah mendahului nasib!” teriak Arai.
“Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apa pun yang terjadi!”
“Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apa pun yang terjadi!”
Labels:
2011,
Andrea Hirata,
Bentang Pustaka,
Petualangan
Sang Pemula
Posted by Unknown
Posted on 11:26 PM
with No comments
Judul: Sang Pemula
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Tanggal Terbit: 1985
Halaman: 418
Cover: softcover
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Tanggal Terbit: 1985
Halaman: 418
Cover: softcover
Sinopsis:
Dalam lipatan lusuh sejarah Republik, nama Tirto Adhi Surjo memang
sempat hilang dan terkubur dalam ingatan kolektif masyarakat. Padahal di
pergantian abad, nama ini tampil sebagai pribumi pertama yang
membebaskan diri dari manusia yang hanya menjadi budak administrasi
kekuasaan kolonial. Lewat tulisannya dan perjuangan yang dilakukannya
lewat lembaran koran yang diciptakannya, Medan Prijaji, disuluhnya
bangsanya. Dititipkannya rasa mardika dalam hati pribumi serta
digerakannya hati itu dalam mesin organisasi modern. Pram dengan
kegigihannya menampilkan tokoh “anonim” ini ke pentas sejarah nasional.
Labels:
1985,
Hasna Mitra,
Pramoedya Ananta Toer
Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia
Posted by Unknown
Posted on 11:23 PM
with No comments
Judul: Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia
ISBN/ISSN: 979-498-100-1
Pengarang: George Mc Turnan Kahin
Penerbit UNS Press
Tahun Terbit: 1995
Tempat Terbit: Jakarta
Tebal: xxiii,608hlm.:bibi.,23cm.
sumber : http://panjerina.wordpress.com/2012/11/02/nasionalisme-dan-revolusi-di-indonesia/
ISBN/ISSN: 979-498-100-1
Pengarang: George Mc Turnan Kahin
Penerbit UNS Press
Tahun Terbit: 1995
Tempat Terbit: Jakarta
Tebal: xxiii,608hlm.:bibi.,23cm.
sumber : http://panjerina.wordpress.com/2012/11/02/nasionalisme-dan-revolusi-di-indonesia/
Labels:
1995,
George Mc Turnan Kahin,
Kolom
Ikan-ikan Hiu Ido Homa
Posted by Unknown
Posted on 11:21 PM
with 1 comment
Judul: Ikan-ikan Hiu Ido Homa
Penulis : Y.B.Mangunwijaya
Penerbit : Djambatan
Tgl Terbit : 1987
No. ISBN : -
Halaman : 318 hal
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi (LxP) : 14.5 x 21 cm
Sinopsis:
Novel yang dilengkapi dengan peta, catatan sejarah kebudayaan masyarakat di Maluku Utara, dan ilustrasi yang memukau. Bercerita tentang Gabi yang pada tahun 1980 menelusuri sejarah Kiema-Dudu, kepala kampung Dowingo-Jo di tepi timur Teluk Kao di pulau Halmahera sana ratusan tahun sebelumnya (1594) dan menemukan kepahlawanan dan keberanian masyarakat Halmahera saat menghadapi bangsa kolonial
sumber : http://panjerina.wordpress.com/2012/07/28/ikan-ikan-hiu-ido-homa/
Penulis : Y.B.Mangunwijaya
Penerbit : Djambatan
Tgl Terbit : 1987
No. ISBN : -
Halaman : 318 hal
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi (LxP) : 14.5 x 21 cm
Sinopsis:
Novel yang dilengkapi dengan peta, catatan sejarah kebudayaan masyarakat di Maluku Utara, dan ilustrasi yang memukau. Bercerita tentang Gabi yang pada tahun 1980 menelusuri sejarah Kiema-Dudu, kepala kampung Dowingo-Jo di tepi timur Teluk Kao di pulau Halmahera sana ratusan tahun sebelumnya (1594) dan menemukan kepahlawanan dan keberanian masyarakat Halmahera saat menghadapi bangsa kolonial
sumber : http://panjerina.wordpress.com/2012/07/28/ikan-ikan-hiu-ido-homa/
Labels:
1987,
Novel,
Y.B.Mangunwijaya
Mangan Ora Mangan Kumpul
Posted by Unknown
Posted on 11:19 PM
with No comments
Judul Buku : Mangan Ora Mangan Kumpul
Penulis : Umar Kayam
Pengantar : Goenawan Mohamad
Penerbit : Grafiti, Jakarta, cet.V,
Penulis : Umar Kayam
Pengantar : Goenawan Mohamad
Penerbit : Grafiti, Jakarta, cet.V,
Tahun terbit :1995
Tebal : 458 hlm
Tebal : 458 hlm
Sinopsis:
Di kemas dalam gaya seloroh, nakal dan santai kumpulan kolom Umar
Kayam ini, mencuatkan sesuatu yang transendental. Teknik penulisannya
pun, uniknya, mengingath kita pada Obrolan Pak Besut di RRI Yogyakarta
dahulu menghadirkan sejumlah tokoh tetap, dan_ mengikat ”alur cerita”
dengan warna lokal yang kental. Jika kemudian warna lokal Jawa yang
agaknya harus dilihat lebih sebagai alat menyampai, kearifan dalam
memandang kehidupan. Baginya, hidup adalah harmoni, dan tidak selalu
hitam-putih.
Komentar Goenawan Mohamad, “Hidup, seperti
yang tersirat dari tulisan Umar Kayam ini, tidak bisa dilihat secara
ekstrem , banyak problem, tapi kita masih bisa selalu betah karena hidup
tak pernah jadi proses yang soliter
Resensi:
Sayur asem, wong cilik, dan …
Susanto Pudjomartono
Susanto Pudjomartono
Umar Kayam dikenal punya pergaulan luas. Kenalannya dari kalangan
atas sampai mbok-mbok penjual gudeg lesehan di Yogya. Gaya hidup guru
besar UGM ini sungguh nyeniman. Pengalamannya juga sangat luas. Ia
pernah menjabat Dirjen Radio, Televisi, dan Film Ketua Dewan Kesenian
Jakarta dan Ketua Dewan Film Nasional. Ia pernah berperan dalam beberapa
film, antara lain Karmila, Yang Muda yang Bercinta, dan sebagai Bung
Karno dalam Pengkhianatan G30S-PKI. Mungkin karena itu
tulisan-tulisannya terasa “kaya” dan enak dibaca. Penuh humor, tapi
berbobot.
Cerpennya, Seribu Kunang-Kunang di Manhattan memenangkan cerpen
terbaik majalah Horison (1968). Kolom-kolomnya tersebar di berbagai
media, dan bisa membahas banyak hal, dari profil almarhum Rusman,
“Gatotkaca Sriwedari”, sampai kebiasaan mudik di waktu Lebaran. Namun,
yang luput dari perhatian banyak orang — kecuali orang Yogya yang
membaca koran Kedaulatan Rakyat — adalah kolom-kolom mingguannya yang
dimuat di koran terbitan Yogyakarta itu.
Selama sekitar dua setengah tahun, sejak Mei 1987 hingga Januari
1990, ia telah menulis 127 sketsa. Sketsa-sketsa itu kini go public,
setelah diterbitkan dalam buku ini, hingga bisa dinikmati publik yang
lebih luas. Karena tugasnya, selama bertahun-tahun, Kayam tinggal di
Yogya, sedang keluarganya ada di Jakarta. Sekali seminggu, Kayam “mudik”
ke Jakarta. Seting Kayam yang tinggal dalam dua rumah, dalam dua
“dunia” yang berbeda, Yogya dan Jakarta, inilah yang melatarbelakangi
hampir semua sketsa yang ditulisnya. Mungkin karena menulis sketsa
kehidupan, Kayam menulis tanpa beban dan pretensi apa-apa. Ia bagaikan
tak peduli dengan tema, gaya bahasa, atau message tulisan.
Dalam sejumlah sketsa, ia bahkan mirip ngudarasa, alias thinking
aloud. Akibatnya, tulisannya enak, mengalir. Istilah dan ungkapan Jawa,
Inggris, Belanda, atau asing lainnya, dipakainya sak enak udele dewe,
seenaknya. Sepertinya ia tak takut kuwalat karena, misalnya, sengaja
memakai “semangkin”, bukan “semakin”. Atau mengindonesiakan sejumlah
istilah asing, seperti hensem ( handsome), plin (lane), atau pangrok
(punkrock). Dan rasanya, di tulisan Kayam, semua itu tak terkesan
“merusak”, malah pas. Ia membahas apa saja yang dilihat, didengar,
diingat, atau dirasakannya. Dari soal sayur asem, kena flu, patriotisme,
warung kopi di Singapura, sampai kampanye pemilu.
Tokoh-tokoh sentral dalam tulisannya adalah personifikasi tokoh-tokoh
yang dikenalnya dengan dekat. Ada Mr. Rigen (mirip nama Presiden AS
Ronald Reagan, kan?), pembantunya yang berasal dari Desa Pracimantara,
Wonogiri. Lalu istri Rigen. Ms. Nansiyem (Nancy Reagan?), dan anak
mereka, Benny Prakosa. Kemudian ada Pak Joyoboyo, penjaja ayam panggang
keliling. Kayam sendiri “berperan” sebagai Pak Ageng, sang bos. Terutama
lewat Rigen dan Joyoboyo ini muncul sisi-sisi pemikiran wong cilik yang
mungkin sering kita lupakan atau kita remehkan. Misalnya, bagaimana
Rigen yang cuma lulusan SD tak bisa mengerti mengapa untuk mengarak api
PON saja dihabiskan dana Rp 1 milyar. Seandainya saja uang sebanyak itu
untuk membangun sumur di Pracimantara yang tandus….
Lewat ucapan “filsuf-filsuf Jawa” Mr. Rigen dan Joyoboyo inilah Kayam
membuat kita merenung, terkadang menertawakan diri sendiri, betapa
(mungkin) zaman telah mengubah kita, dan betapa tidak berubahnya
sebagian di antara kita. Di tengah menderunya mesin pembangunan dan
gemerlapnya modernisasi, mungkin kita akan tertegun mendengar kata-kata
Pak Joyoboyo: “Saya tak ingin kaya, hanya ingin sekedar hidup.” Atau
ucapan Rigen yang terheran-heran ketika ditanya apakah ia bahagia.
“Menderita itu sudah nasib orang kecil, ya diterima saja,” katanya.
Lewat sketsa-sketsa ini Kayam telah menggugah nurani kita. Itu
dilakukannya dengan halus, penuh humor, tanpa membuat orang marah. Ia
menyenggol banyak hal, termasuk ekses-ekses pembangunan, tanpa membuat
kening mengernyit. Yang juga penting, lewat tulisan-tulisan ini Kayam
telah mencatat dan merekam perubahan sosial budaya yang terjadi di
masyarakat. Seperti kata Goenawan Mohamad dalam Kata Pengantar buku ini,
Mangan Ora Mangan Kumpul akhirnya adalah “rekaman, juga komentar,
tentang masyarakat Jawa yang sedang dalam peralihan”. Dan Kayam tutur
Goenawan lagi, “memberikan kearifan dalam memandang hidup.”
Sayangnya, karena memang ditulis untuk publik Yogya, sketsa-sketsa
ini paling bisa dinikmati oleh orang Yogya, atau yang pernah mengenal
Yogya. Banyak sekali nama, istilah, ungkapan, atau kutipan dalam bahasa
Jawa (Yogya). Toh itu tak mengurangi nilainya. Buku ini tak kalah
berharganya dibanding Social Changes in Yogyakarta karya Prof. Selo
Soemardjan yang terkenal itu.
sumber : http://panjerina.wordpress.com/2012/07/02/mangan-ora-mangan-kumpul/
sumber : http://panjerina.wordpress.com/2012/07/02/mangan-ora-mangan-kumpul/
Labels:
1995,
Kolom,
Umar Kayam
Gadis Pantai
Posted by Unknown
Posted on 11:12 PM
with No comments
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Edisi : Soft Cover
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
ISBN : 9799731208
Ukuran : 13×20
Tanggal Terbit : 2000
Penerbit : Hasta Mitra
Edisi : Soft Cover
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
ISBN : 9799731208
Ukuran : 13×20
Tanggal Terbit : 2000
Sinopsis Buku:
Gadis pantai lahir & tumbuh di sebuah kampung nelayan di jawa
tengah kabupaten rembang. Seorang gadis yg manis. Cukup manis utk
memikat hati seorang pembesar santri setempat; seorang jawa yg bekerja
pada belanda. Dia diambil menjadi gundik pembesar tersebut & menjadi
mas nganten: perempuan yg melayani “kebutuhan” seks pembesar sampai
kemudian pembesar memutuskan utk menikah dgn perempuan yg sekelas atau
sederajat dengannya.
Mula perkawinan itu memberi prestise bagi di
kampung halaman krn dia dipandang telah dinaikkan derajat menjadi
bendoro putri. Tapi itu tak berlangsung lama. Ia terperosok kembali ke
tanah. Orang jawa yg telah memiliki tega membuang setelah dia melahirkan
seorang bayi perempuan. Roman ini menusuk feodalisme jawa yg tak
memiliki adab & jiwa kemanusiaan tepat langsung si jantung yg paling
dalam
Labels:
2000,
Pramoedya Ananta Toer
Jejak Langkah
Posted by Unknown
Posted on 10:59 PM
with No comments
Judul: Jejak Langkah
oleh: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Edisi : Soft Cover
ISBN :
ISBN-13 :
Tgl Penerbitan :
Bahasa : Indonesia
oleh: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Edisi : Soft Cover
ISBN :
ISBN-13 :
Tgl Penerbitan :
Bahasa : Indonesia
Sinopsis Buku:
Kehadiran roman sejarah ini, bukan saja dimaksudkan untuk mengisi
sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan
menentukan, namn juga mengisi isu kesusastraan yang sangat minim
menggarap periode pelik ini. karena itu hadirnya roman ini memberi
bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah
secara lain dan dari sisinya yang berbeda. Tetralogi ini dibagi dalam
format empat buku. pembagian ini bisa juga kita artikan sebagai
pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa periode. Dan roman
ketiga ini, Jejak Langkah, adalah fase pengorganisasian perlawanan.
Minke memobilisasi segala daya untuk melawan bercokolnya kekuasaan
Hindia yang sudah berabad-abad umurnya. namun Minke tak pilih perlawanan
bersenjata. Ia memilih jalan jurnalistik dengan membuat
sebanyak-banyaknya bacaan Pribumi. Yang paling terkenal tentu saja Medan
Prajaji. Dengan koran ini, Minke bereru-berseru kepada rakyat Pribumi
tiga hal: meningkatkan boikot, berorganisasi, dan menghapuskan
kebudayaan feodalistik. Sekaligus lewat langkah jurnalistik, Minke
berseru-seru: `Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa
dengan perlawanan.`
Labels:
2000,
Pramoedya Ananta Toer,
Roman
Anak Semua Bangsa
Posted by Unknown
Posted on 10:56 PM
with No comments
Judul : Anak Semua Bangsa
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Editor : Joesoef Isak
Penerbit :Hasta Mitra
Tanggal – tahun terbit : 2001
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Editor : Joesoef Isak
Penerbit :Hasta Mitra
Tanggal – tahun terbit : 2001
Sinopsis Buku:
Kehadiran roman sejarah ini, bukan saja dimaksudkan untuk mengisi
sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan
menentukan, namun juga mengisi isu kesusasteraan yang sangat minim
menggarap periode pelik ini. Karena itu hadirnya roman ini memberi
bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah
secara lain dan dari sisinya yang berbeda.
Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. Pembagian ini bisa juga
kita artikan sebagai pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa
periode.
Roman kedua Tetralogi, Anak Semua Bangsa,
adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit
lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan
kekuatan raksasa Eropa. Di titik ini Minke diperhadapkan antara
kekaguman yang melimpah-limpah pada peradaban Eropa dan kenyataan di
selingkungan bangsanya yang kerdil. Sepotong perjalanannya ke Tulangan
Sidoarjo dan pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis
pergerakan Tionghoa, korespondensinya dengan keluarga De la Croix
(Sarah, Miriam, Herbert), teman Eropanya yang liberal, dan petuah-petuah
Nyai Ontosoroh, mertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke
tergugat, tergurah, dan tergugah, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari
segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan
berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.
Labels:
2001,
Hasna Mitra,
Pramoedya Ananta Toer
Bumi Manusia
Posted by Unknown
Posted on 10:54 PM
with No comments
Judul :Bumi Manusia
ISBN : 979-97312-3-2
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Tahun Terbit : 2000
Sampul : Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Jumlah Halaman : 535 Halaman
ISBN : 979-97312-3-2
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Tahun Terbit : 2000
Sampul : Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Jumlah Halaman : 535 Halaman
Sinopsis:
Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation
Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan
sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional
mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan
pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian
bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.
Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai
periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus
kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar
dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di
sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari
ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang
sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat
dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu
lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk
enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu
dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang
indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu …. Sembah
pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan
diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan
menjalani kehinaan ini.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
Labels:
2000,
Hasna Mitra,
Pramoedya Ananta Toer,
Roman




