Penulis : Harry A. Poeze
ISBN : 978-979-461-697-0
Penerbit: Bentang
Dimensi : 16 x 24
Jenis Cover : soft cover
Sinopsis:
Tan Malaka sosok penuh misteri dalam kancah kemerdekaan RI baik di masa persiapan maupun perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari upaya kembalinya penjajah di Indonesia. Dengan menggunakan nama samaran, ia menulis berbagai artikel dalam surat kabar dan mempertahankan pandanganannya yang tidak kenal kompromi. Kedudukannya di Comintern dan keyakinanannya atas dialektika matrialisme telah menenggelamkan butir-butir local value Minangkabau dalam filsafatnya di mata musuhmusuhnya. Ia adalah pahlawan nasional yang potret dan biografinya tidak pernah tercantum dalam Album Pahlawan Bangsa.
Tan Malaka sosok penuh misteri dalam kancah kemerdekaan RI baik di masa persiapan maupun perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari upaya kembalinya penjajah di Indonesia. Dengan menggunakan nama samaran, ia menulis berbagai artikel dalam surat kabar dan mempertahankan pandanganannya yang tidak kenal kompromi. Kedudukannya di Comintern dan keyakinanannya atas dialektika matrialisme telah menenggelamkan butir-butir local value Minangkabau dalam filsafatnya di mata musuhmusuhnya. Ia adalah pahlawan nasional yang potret dan biografinya tidak pernah tercantum dalam Album Pahlawan Bangsa.
Pada tahun 1976 terbit Tan Malaka; Strijder voor Indonesie’s
vrijheid; Levensloop van 1897 tot 1945 (Tan Malaka; Pejuang Kemerdekaan
Indonesia; Perjalanan Hidup dari 1897-1945), yang merupakan disertasi
Harry A. Poeze untuk Universiteit Amsterdam. Hadir di Indonesia dalam
bentuk buku dengan judul Tan Malaka; Pergulatan Menuju Republik,
1897-1925 (Jakarta, 1988, 2000) dan Tan Malaka: Pergulatan Republik
Indonesia, 1925-1945 (Jakarta, 1999). Poeze menyadari, penelitian yang
dilakukannya mengandung sejumlah kekurangan. Harapannya dapat ditutupi
dalam versi ulang pembahasannya. Karena itu, ia mulai mengumpulkan
bahan-bahan selama tiga bulan tinggal di Indonesia dalam tahun 1980.
Poeze mengakui, menulis riwayat hayat dan pemikiran-pergerakan Tan
Malaka merupakan suatu dahaga. Ia heran, karena ternyata masih sangat
banyak kejadian yang belum dituliskan. Ia pun berusaha keras melakukan
penelitian dan penulisan dengan memakan waktu selama sepuluh tahun.
Hasilnya sebuah buku magnum opus dalam bahasa Belanda, yang terdiri dari
tiga jilid berisi 2.200 halaman, dan terbit pada bulan Juni 2007,
berjudul Verguisd en vergeten; Tan Malaka, de linkse beweging en de
Indonesische Revolutie, 1945-1949 (Dihujat dan dilupakan; Tan Malaka,
gerakan kiri, dan Revolusi Indonesia, 1945-1949).
Sejarah ini dituliskan dengan perkembangan politik dalam negeri
Indonesia sebagai titik tolak. Sebagian besar buku yang mengupas sejarah
Indonesia, memilih suatu sudut pandang, yang ditentukan oleh
dimensi-dimensi internasional dari konflik dekolonisasi antara Indonesia
dan Belanda, dengan peranan penting Inggris, Amerika Serikat, dan
Perserikatan Bangsa Bangsa. Dengan demikian, Perjanjian Linggajati dan
Perjanjian Renville, serta dua aksi militer Belanda berperan sebagai
titik balik yang menentukann.
Di dalam Republik Indonesia sendiri,
kejadian-kejadian tersebut juga merupakan peristiwa penting. Tetapi yang
lebih penting dan menentukan jalannya sejarah ialah perkembangan dan
krisis internal. Hal itu yang menentukan hidup-matinya republik itu
sendiri. Konflik di dalam republik antara “perjuangan” dan “diplomasi”
itulah yang setiap kali berkobar. Tetapi kedua belah pihak tidak
memiliki pengikut tetap. Sebagian besar, pada suatu ketika memilih satu
pihak. Pada saat yang lain, pindah ke pihak lain. Di sini oportunitas
politik memainkan peranan besar. Ini seperti permainan akrobat yang
sulit. Tidak ada jaring pengaman, maka jumlah korban pun tidak sedikit.
Peristiwa-peristiwa sangat penting dalam kesimpangsiuran dalam negeri
ialah persidangan parlemen sementara, Komite Nasional Indonesia Pusat
(KNIP) dalam bulan Februari-Maret 1946, Persitiwa 3 Juli 1946, sidang
KNIP tentang persetujuan Perjanjian Linggajati Februari-Maret 1947,
pembentukan Kabinet Hatta Januari 1948, pemberontakan Madiun
September-Oktober 1948, dan akhirnya reaksi-reaksi terhadap persetujuan
Roem-Roijen Mei 1949, dan Konferensi Meja Bundar Desember 1949. Semua
peristiwa itu dibicarakan panjang lebar dalam buku ini (hlm. vii-viii)
Dari gambaran itu, tentu kita tidak hanya menikmati perjalanan hidup
Sang Kiri Nasionalis yang penuh misteri, tetapi juga bisa menyantap
sejarah revolusi kemerdekaan Indonesia. Tentu saja di setiap peristiwa
itu, Tan Malaka memainkan peranan penting, baik mendominasi jalannya
peristiwa maupun hanya menjadi bagian kecil saja. Menurut Poeze, buku
ini berbeda dengan buku-buku sejarah yang pernah ada, karena Indonesia
menjadi aktor utama yang menentukan hidup dan matinya. Sementara
buku-buku sejarah yang pernah ada, menempatkan Indonesia sebagai buih
dari konflik dekolonisasi. Perubahan ini diharapkan membawa sudut
pandang baru dalam memahami sejarah Indonesia.
Buku Verguisd en vergeten yang dalam versi Belanda terdiri dari tiga
jilid, untuk versi Indonesia rencananya akan berjumlah enam jilid, yang
akan terbit berturut-turut dalam waktu tiga tahun. Judulnya berubah
menjadi: Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia. Saat ini,
kita baru bisa menikmati jilid pertama, periode Agustus 1945- Maret
1946. Setiap jilid akan diberi anak judul yang berupa keterangan
kronologis peristiwa. Pembagiannya: Jilid II: Maret 1946-maret 1947;
Jilid III: Maret 1947-Agustus 1948; Jilid IV: September 1948-Februari
1949; Jilid V: Maret 1949-2010; Jilid VI: memberikan uraian tentang
jalannya pemberontakan Madiun. Karena itu, judul untuk lima jilid
pertama tidak berlaku lagi, mengingat di dalam peristiwa Madiun Tan
Malaka tidak memiliki peran. Dengan demikian jilid ini akan diterbitkan
sendiri dengan judul tersendiri.
Buku ini tidak sekadar biografi Tan Malaka, tetapi juga merupakan
sejarah Revolusi Indonesia. Rasa haus terhadap Tan Malaka, membuat Poeze
melangkah jauh menyelami palung-palung sejarah Indonesia, hingga tahun
2010. Apa yang akan digambarkan Poeze selanjutnya? Kita tunggu saja lima
jilid berikutnya.
*)Hendri F. Isnaeni
Peneliti Sejarah Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.
Penulis Buku Penyamaran Terakhir Tan Malaka di Banten (1943-1945) yang akan terbit Agustus 2009 oleh Penerbit Tinta MAS Jakarta.
Peneliti Sejarah Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina Jakarta.
Penulis Buku Penyamaran Terakhir Tan Malaka di Banten (1943-1945) yang akan terbit Agustus 2009 oleh Penerbit Tinta MAS Jakarta.
sumber : http://panjerina.wordpress.com/2012/07/12/tan-malaka-gerakan-kiri-dan-revolusi-indonesia-jilid-i/

punya bukunya ga gan?
ReplyDelete